Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ekonomi Sirkular, Alternatif Waktu Tunggu Masa Replanting Sawit

Ekonomi Sirkular, Alternatif Waktu Tunggu Masa Replanting Sawit Kredit Foto: Antara/Septianda Perdana
ToP Core, Jakarta -

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) merupakan salah satu program Strategis Nasional sebagai upaya Pemerintah dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan kelapa sawit nasional. Pemerintah menargetkan peremajaan (replanting) kebun sawit milik petani seluas 540.000 hektar hingga tahun 2024.

Tak terkecuali Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah juga menerima alokasi anggaran untuk kegiatan replanting dari BPDPKS.

Dampak proses replanting, manfaat sawit memang tidak bisa langsung dirasakan, mengingat tanaman sawit mulai berproduksi aktif sekitar umur 4-5 tahun. Oleh karena itu, diperlukan pertumbuhan sumber-sumber ekonomi baru.

Baca Juga: Perjuangkan Akses Pasar Biodiesel di Eropa, Indonesia Ajukan Pembentukan Panel di WTO

Kepala Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PR SPBPDH) BRIN, Nugroho Adi Sasongko menyebut bahwa BRIN saat ini sedang melakukan penelitian terkait ekonomi sirkular sebagai alternatif waktu tunggu masa peremajaan sawit.

“Riset ini terkait optimalisasi pemanfaatan area replanting sawit untuk pengembangan jagung dan ternak unggas guna mewujudkan ekonomi sirkular masyarakat di Kab. Kobar,” ujar Nugroho, dilansir dari laman resmi BRIN pada Jumat (1/12). 

Menurut Nugroho, kegiatan ekonomi sirkular adalah kegiatan ekonomi yang berwawasan lingkungan, yaitu melalui pengembangan industri hijau. Model yang digunakan ialah dengan berupaya memperpanjang siklus hidup dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin. Lebih lanjut diungkapkan Nugroho, implementasi ekonomi sirkular di lapangan bisa berupa pengurangan timbunan limbah dan polusi. 

Dalam kesempatan yang sama, periset PR SPBPDH Ermin Widjaja menyampaikan, tersedianya lahan sela sangat luas di area replanting bisa dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas lain, baik berupa tanaman pangan maupun tanaman hortikultura selagi tanaman sawit belum berbuah (umur 3-4 tahun). Sehingga dapat memunculkan kegiatan ekonomi baru selama tanaman sawit belum menghasilkan.

“Kegiatan yang dilakukan meliputi budidaya jagung di area replanting sawit berumur 1 tahun seluas 20 hektar. Lalu juga ada pembuatan pupuk organik yang diperkaya dengan mikroba, dengan bahan dasar limbah pabrik kelapa sawit seperti abu boiler, solid sawit, serat perasan buah/fiber, kotoran ayam dan decomposer. Selain itu ada budidaya ayam petelur sebanyak 1000 ekor dengan menggunakan campuran pakan lokal untuk menekan harga pakan pabrik yang mahal,” papar Ermin. 

Baca Juga: Indonesia Bisa Kurangi 50 Persen Impor LPG Jika Manfaatkan Limbah Sawit Ini

Ermin menyebut bahwa dari kegiatan tersebut memberikan sumber penghasilan baru untuk petani sawit yang terintegrasi dengan usaha lainnya. Sehingga menghasilkan ekonomi sirkular yang menambah pendapatan petani, dengan sumber pendapatan berupa produksi jagung, produksi telur, dan produksi pupuk organik yang memiliki pangsa pasar bagus.

Kegiatan ini dapat dilakukan pada masyarakat sawit yang sudah berkelompok dan tergabung pada kelembagaan yang memiliki modal seperti KUD. Hal ini dikarenakan modal yang diperlukan cukup besar untuk kegiatan replanting yang terintegrasi dengan komoditas jagung dan ternak unggas secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga memerlukan dukungan dari pemerintah.

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: