Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Indonesia Yakin Bakal Memenangkan Gugatan WTO Soal Biofuel Sawit

Indonesia Yakin Bakal Memenangkan Gugatan WTO Soal Biofuel Sawit Kredit Foto: Flickr/European Parliament
ToP Core, Jakarta -

Produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia, yakin akan memenangkan gugatan biofuel terhadap Uni Eropa (UE). Selain itu, pemerintah Indonesia juga mengatakan bahwa perselisihan yang sedang berlangsung tidak akan mempengaruhi negosiasi pakta perdagangan yang telah lama ditunggu-tunggu dengan blok beranggotakan 27 negara tersebut.

Pada tahun 2019 lalu, Indonesia mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terhadap UE terkait kebijakan Energi Terbarukan II (RED II) dari blok yang bersifat diskriminatif. RED II melihat Uni Eropa akan menghentikan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) berbahan dasar minyak sawit secara bertahap pada tahun 2030, dengan alasan bahwa produk-produk tersebut mungkin mempunyai risiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan tidak langsung (ILUC).

Baca Juga: Tahun 2024, Harga CPO Diperkirakan Lebih Baik Daripada Tahun Sebelumnya

UE menuduh bahwa produksi biofuel mungkin dilakukan di lahan pertanian yang sebelumnya diperuntukkan bagi pangan. Hal ini dapat menyebabkan petani memperluas produksi lahan pertanian ke wilayah dengan stok karbon tinggi seperti hutan, sehingga berpotensi meniadakan penghematan emisi dari penggunaan biofuel. Biofuel dapat dikecualikan dari pembatasan jika minyak sawit diklasifikasikan sebagai ILUC yang berisiko rendah.

Meski panel WTO belum mengeluarkan laporan mengenai gugatan biofuel kelapa sawit ini, namun Indonesia mempunyai harapan besar untuk meraih kemenangan.

“Kami memiliki beberapa perselisihan dengan UE di WTO. DS592 menggunakan nikel, sedangkan DS593 menggunakan minyak sawit. Kami yakin dapat memenangkan sengketa kelapa sawit. Tunggu saja,” kata Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga kepada media di Jakarta, Kamis (5/1). 

Perlu diketahui, Kantor Berita Deutsche Welle melaporkan bahwa UE mengimpor minyak sawit dan produk minyak sawit senilai 6,3 miliar euro (sekitar USD 6,9 miliar) pada tahun 2021, yang sebagian besar digunakan untuk biofuel. Indonesia dan Malaysia masing-masing mewakili 44,6 persen dan 25,2 persen dari impor tersebut. 

Baca Juga: Tahun 2024 CPO Masih Jadi Tumpuan, Ekspor Nonmigas Ditargetkan Rp4.700 T

Tahun lalu, WTO memenangkan UE dalam perselisihan mengenai larangan ekspor nikel mentah oleh Indonesia. Indonesia segera mengajukan banding, yang masih harus ditinjau hingga hari ini karena tidak adanya badan banding yang berfungsi. Di tengah tuntutan hukum WTO ini, Indonesia telah berusaha untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan UE sejak tahun 2016.

“Sengketa dan perjanjian perdagangan adalah dua hal yang berbeda. Tuntutan hukum tidak berdampak pada negosiasi,” kata Jerry. 

Kedua belah pihak bertujuan untuk menyelesaikan perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) Indonesia-UE yang tertunda pada tahun 2024. Perundingan putaran ke-17 tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada Februari mendatang. 

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: