Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Minyak Sawit Rebound Karena Kekhawatiran Hujan Lebat dan Permintaan Tiongkok

Minyak Sawit Rebound Karena Kekhawatiran Hujan Lebat dan Permintaan Tiongkok Kredit Foto: Antara/Akbar Tado
ToP Core, Jakarta -

Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman bulan April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik RM 45 atau 1,15% menjadi RM 3.949 (USD 835,94) per MT, tertinggi dalam dua bulan.

Manajer Perdagangan Kantilal Laxmichand & Co yang berbasis di Mumbai, Mitesh Saiya mengatakan, masalah produksi di Indonesia dan Malaysia akibat hujan lebat mendorong kenaikan harga minyak sawit berjangka, di tengah permintaan yang baik dari Tiongkok.  

Baca Juga: Tahun 2024, Industri Sawit Diperkirakan Menjadi Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi di Malaysia

Di lain sisi, BMKG Indonesia, minggu ini mengeluarkan peringatan akan terjadinya hujan lebat di beberapa provinsi penghasil minyak sawit, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, berdasarkan surat edaran di situs web MPOB, Malaysia mempertahankan pajak ekspor minyak sawit mentah pada bulan Februari sebesar 8% dan menurunkan harga referensinya. 

Kelapa sawit membukukan keuntungan pada minggu kedua karena produksi yang stagnan dan minyak saingannya yang lebih kuat. 

Harga minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait lantaran bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,03%, sedangkan kontrak minyak sawit turun 0,88%. 

Baca Juga: Mengenal RSPO dan Perkembangannya Bagi Sektor Industri Sawit Berkelanjutan

Sementara itu, impor minyak bunga matahari India akan menurun dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini dikarenakan kenaikan harga yang didorong oleh kenaikan tarif angkutan, mendorong pembeli untuk beralih ke minyak saingan yang tersedia dengan harga diskon.

Harga minyak mentah sedikit berubah pada hari Selasa karena para pedagang mempertimbangkan sejumlah konflik pasokan dan permintaan, mulai dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah hingga cuaca dingin yang mengganggu produksi di Amerika Serikat.

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: