Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Gacor! Nilai Hilirisasi Produk Sawit Diprediksi Lebih Dari 100 Miliar Dolar Pada 2028

Gacor! Nilai Hilirisasi Produk Sawit Diprediksi Lebih Dari 100 Miliar Dolar Pada 2028 Kredit Foto: Majalah Sawit Indonesia
ToP Core, Bandung -

Kontribusi sektor industri sawit terhadap perekonomian nasional akan meningkat berkali-kali lipat melalui hilirisasi. Dengan penggunaan teknologi terbaru, replanting hingga diatur oleh satu badan, bisnis sawit pada tahun 2028 diperkirakan bisa mencapai USD107,02 miliar atau sekitar Rp15 ribu triliun.

Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit bertemakan “Perkembangan dan Kontribusi Industri Hilir Sawit Bagi Perekonomian Indonesia” yang diselenggarakan oleh Majalah Sawit Indonesia pada 31 Januari – 2 Februari 2024 di Bandung, Jawa Barat.

Plt. Ketua Umum DMSI, Sahat Sinaga menyampaikan, hilirisasi sawit dengan teknologi yang ada saat ini nilai usahanya di tahun 2023 sudah mencapai USD62,9 miliar. Angka tersebut berasal dari hasil ekspor sebesar USD 38,4 miliar; domestik USD21,4 miliar; dan biomassa USD3,1 miliar.

Baca Juga: ITB Produksi Katalis Sendiri, Jadi Loncatan Besar Pengembangan Industri Bioenergi Indonesia

“Hilirisasi industri sawit dengan jumlah jenis produk sebanyak 54 jenis di tahun 2007 meningkat ke 179 jenis di tahun 2023, dan kesempatan masih terbuka luas untuk dikembangkan agar meningkatkan revenue sawit kita,” ujar Sahat.

Meskipun cukup mengalami peningkatan, Sahat menyebut hilirisasi industri sawit Indonesia masih kalah dengan Malaysia. Sebab negara tetangga sudah mempunyai sekitar 260 produk turunan sawit. Padahal, Malaysia hanya memiliki 5 juta hektar lahan, jauh di bawah Indonesia yang mencapai sekitar 16,8 juta hektar.

“Mereka bisa menghasilkan tokotrienol dari sawit, tokotrienol 1 kg 800 dolar. Kenapa banyak? karena pengusaha aman disana. Tidak tiba-tiba pengusaha didatangi kesatuan pemuda setempat, regulasi berubah-ubah. Di Indonesia besar potensinya, tapi pelaku usaha takut,” ujarnya. 

Oleh sebab itu, Sahat menekankan perlunya satu badan khusus agar laju industri sawit bisa berjalan optimal. Selain itu tujuannya agar tumpang tindih regulasi yang menghambat industri di sektor sawit juga bisa diselesaikan.

Baca Juga: Indonesia Bisa Kurangi 50 Persen Impor LPG Jika Manfaatkan Limbah Sawit Ini

“Agar kondusif jangan kementerian-kementerian banyak cawe-cawe ke sawit. Kementerian lain hanya supporting. Ada satu badan jadinya,” ungkap Sahat.

Sahat mengungkapkan, jika inovasi proses pengolahan produk sawit diperbaharui, maka total bisnis sawit di tahun 2028 bisa mencapai USD 107,02 miliar atau pertumbuhan usaha di bidang industri sawit bisa tumbuh sebanyak 70,1 persen.

“Kuncinya adalah mereplanting 485.000 hektar per tahun. Petani itu harus dibina, jangan dibinasakan maka perlu dibantu. Lalu manfaatkan biomass, per satu ton sawit bisa 8-9 ton biomass. Rapeseed 1 ton biomass. Kita punya banyak tapi tidak termanfaatkan,” pungkas Sahat.

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: