Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pemanfaatan Gas Metana: Transformasi Limbah Kelapa Sawit menjadi Energi Terbarukan

Pemanfaatan Gas Metana: Transformasi Limbah Kelapa Sawit menjadi Energi Terbarukan Kredit Foto: GAPKI
ToP Core, Jakarta -

Industri kelapa sawit merupakan industri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi saat ini dan masa yang akan datang. Tidak hanya itu, industri ini juga merupakan industri yang nihil limbah (zero waste) dari emas hijau yang tumbuh subur di Indonesia, sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya sumber daya alam terbarukan yang paling ramah lingkungan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dunia yang kian meningkat.

“Jangankan produk utamanya, limbah sawitnya saja bisa menghasilkan gas methana yang bisa diubah menjadi sumber energi terbarukan,” kata Sekretaris Jenderal GAPKI, M. Hadi Sugeng saat membuka acara Seminar Nasional dengan tema Percepatan Peningkatan Pemanfaatan Gas Metana di Pabrik Kelapa Sawit Sebagai Sumber Listrik, Bio-CNG dan Hidrogen di Jakarta, Rabu (31/1/24).

Baca Juga: Gacor! Nilai Hilirisasi Produk Sawit Diprediksi Lebih Dari 100 Miliar Dolar Pada 2028

Hadi menjelaskan, tanaman kelapa sawit menghasilkan biomasa, seperti pelepah, tandan kosong, fiber, dan cangkang. Dalam proses produksi CPO, sebagian kecil biomassa ini terbawa dalam limbah cair dan harus dibusukkan agar limbah cair memenuhi syarat Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) untuk dapat dilepaskan ke badan air atau dimanfaatkan sebagai pupuk. Proses pembusukan ini menghasilkan gas metana yang merupakan salah satu penyumbang global warming dengan potensi 27,9 kali dari emisi CO2. 

“Dengan teknologi Methane Capture, gas metana dapat diubah menjadi energi yang dapat memangkas biaya produksi minyak kelapa sawit serta dapat mentransformasi menjadi energi yang digunakan sebagai pengganti bahan bakar ke tungku boiler atau diproses dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas engine penggerak genset (listrik) hingga sebagai pengganti LPG atau Liquified Petroleum Gas,” jelas Hadi.

Baca Juga: ITB Produksi Katalis Sendiri, Jadi Loncatan Besar Pengembangan Industri Bioenergi Indonesia

Dilihat dari aspek ekonomi, Project Management Section Head PT Dharma Satya Nusantara Tbk, Setyoardi Purwanto menyatakan, pemanfaataan energi terbarukan berbasis Palm Oil Mill Effluent (POME) kedepan akan memberikan nilai ekonomi yang besar karena dapat mengganti listrik PLN yang berbahan bakar diesel, genset, solar, dan LPG untuk digunakan di pusat perbelanjaan dan juga hotel.

Selain memberikan dampak positif dalam segi ekonomi, pemanfaatan POME tentunya juga sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam memenuhi komitmen Net Zero Emission (NZE) 2060 serta perjanjian Paris Agreement sebagai upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dunia. Sinergi yang baik antara pemerintah dengan sektor swasta menjadi kunci dalam tercapai target-target yang sudah ditetapkan. 

“Sejauh ini, industri batubara masih mendominasi pangsa pemanfaatan energi nasional, sedangkan pemanfaatan EBT (energi baru terbarukan) masih rendah. Kolaborasi serta Kerjasama untuk pemanfaatan energi yang berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi target komitmen Indonesia dalam mencapai target NZE 2060,” ujar Direktur Bio Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Edi Wibowo, dalam kesempatan tersebut. 

Baca Juga: BPDPKS Gelar Rapat Kerja Tahun 2024 Mengusung Tema 'Sawit Melayani Lebih Baik'

Hal tersebut diamini oleh Pengamat Lingkungan, Petrus Gunarso. Menurutnya perlu dilakukan koordinasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya yang menangani sampah dan limbah dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baik EBTKE (Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi) maupun MIGAS (Minyak dan Gas Bumi) untuk implementasi pencapaian target Nationally Determined Contributions (NDC) sektor energi. 

Selain manfaatnya bagi lingkungan, industri kelapa sawit Indonesia dikenal sebagai penyumbang devisa terbesar di luar sektor tambang. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa produk turunan sawit telah diekspor ke 160 negara dan kontribusi devisa sebanyak Rp600 triliun di tahun 2022.

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: