Menu
Economic
Social
Environmental
Hoax Buster
Technology & Innovation
Video
Indeks
About Us
Social Media

Industri Perkebunan Berpegang Teguh Pada Konsep Bisnis Berkelanjutan

Industri Perkebunan Berpegang Teguh Pada Konsep Bisnis Berkelanjutan Kredit Foto: Antara/Makna Zaezar
ToP Core, Jakarta -

Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI), mengawali tahun ini dengan menggelar ETIKAP (Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan) ke-5 dengan tema tema ‘Tantangan Hilirisasi Sawit dan Perkebunan Berkelanjutan’. Kegiatan ini merupakan upaya dalam rangka membangun forum-forum ilmiah, kolaborasi, dan berorietasi pada solusi bagi pemangku kepentingan industri kelapa sawit. 

Ketua Umum GPPI, Delima Hasri Azahari mengatakan, “ETIKAP, terus kita selenggarakan. Dan tahun ini mengenai hilirisasi kelapa sawit dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan daya saing di pasar global,” kata Delima saat pembukaan acara di Jakarta, 20/2/2024.

Menurut Delima, pihaknya selalu mendorong semua pihak, khususnya industri perkebunan, untuk berpegang teguh pada konsep bisnis berkelanjutan dengan memberikan perlindungan kepada manusia, lingkungan, dan ekonomi.

Baca Juga: GAPKI dan PWI Berkomitmen Tingkatkan Kompetensi Jurnalis Muda Indonesia

“Kami bekerja dalam prinsip 3P yakni People (manusia), Planet (lingkungan), dan Profit (ekonomi). Kita berikan masukan untuk kebijakan di sektor perkebunan, jadi mitra dari Ditjen Perkebunan dan bermitra dengan LSM/NGO yang punya visi sama,” ujar Delima.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Kelapa Sawit dan Aneka Palma (SALMA), Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ardi Praptono menyampaikan pihakya memiliki program prioritas sawit berkelanjutan dari Direktorat SALMA yang dibentuk sejak 10 bulan lalu.

“Pembentukan direktorat ini upaya mengfokuskan komoditas sawit menjadi komoditas utama dari Ditjen Perkebunan. Oleh karena itu, bahwa ada penguatan tata kelola perkebunan sawit rakyat,” ujarnya.

Program tersebut, lanjut Ardi, merupakan kegiatan perbaikan tata kelola sawit yang terintegrasi dalam satu rangkaian yang di dalamnya ada beberapa program yaitu program peremjaan sawit rakyat (PSR), ISPO, SARPRAS, dan pengembangan SDM.

Baca Juga: Tahun 2024 CPO Masih Jadi Tumpuan, Ekspor Nonmigas Ditargetkan Rp4.700 T

“Dari empat program itu, kita lakukan regulasi yang berkaitan dengan program tersebut dan beberapa aktivas dari masing-masing program tersebut. Dari empat program tersebut, ada aplikasi dan peta spasial yang harus disiapkan yaitu BABEBUN (Bank Benih Perkebunan), Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB),” lanjut Ardi.

Terkait dengan pengembangan SDM, Ardi menegaskan menjadi bagian penting dalam tata kelola perkebunan sawit menngingat pentingnya peningkatan kapasitas SDM baik untuk petani anak petani, pelatihan untuk petani, dan pendidikan (beasiswa untuk anak petani).

“Apabila keempat program itu berjalan dengan baik, maka perkebunan kelapa sawit dapat terwujud dan didukung dengan RAN-KSB (Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan),” tegasnya.

Penulis/Editor: Ellisa Agri Elfadina

Bagikan Artikel: